BREAKING NEWS

Bersama Anda Hadirkan Solusi

Artikel
















Menjadi Narasumber kepada siswa, orang tua dan guru di beberapa sekolah terkait problematika psikologi dalam masyarakat.
















Doa Bersama Nurani Institute



Lembaga Nurani Institute bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Pusat mengadakan istighosah dan doa bersama untuk pemilu yang aman, damai, dan mendapat Ridho Allah.
























www.NuraniInstitute.com



Nurani Institute Indonesia.



















www.NuraniInstitute.com



Nurani Institute Indonesia.




















Kajian Psikologi

Kajian Komunikasi

Artikel

Selasa, 06 Maret 2018

Kegiatan Bersama Dharma Wanita Persatuan Kemenpora


Senin, 05 Maret 2018

Menjadi Narasumber kepada siswa, orang tua dan guru di beberapa sekolah terkait problematika psikologi dalam masyarakat





Minggu, 04 Maret 2018

Nurani Institute melakukan pendampingan dan juga research pada komunitas difable




Selasa, 21 Maret 2017

Funbike Bilqis Sehati 2017

Funbike Bilqis Sehati 2017

Jumat, 25 September 2015

Hiperrealitas Media Massa Dalam Kapitalisme Global



http://humas-virtual.blogspot.co.id/2013/02/hiperealitas-dalam-masa-postmodernisme.html











Oleh:
Muh. Iswar ramadhan
Alumni Komunikasi UIN Alauddin
Mahasiswa Pascasarjana Kepemimpinan UI


Prolog
Di zaman yang serba modern ini, hampir tidak ada yang tidak mengenal televisi, berikut dengan tayangan-tayangan yang disajikan. Kotak ajaib itu membius manusia dimanapun berada. Kotak ajaib itu pun sanggup mengubah pola relasi yang terjadi  antara anggota kelompok masyarakat, bahkan dalam rumah tangga sekalipun. Pernahkah kita melihat seorang ibu rumah tangga menangis, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri di depan layar televisi? Atau apa yang sedang terjadi ketika semua anggota keluarga duduk sopan denga mata menatap lurus ke arah televisi di ruang keluarga tanpa berkomunikasi satu sama lain? fenomena apakah ini? mungkin bukanlah hal yang baru, bahkan kita semua pernah mengalami hal yang demikian. Seberapa kuat sihir yang dihasilkan oleh kotak ajaib bernama televisi hingga mampu mengubah pola relasi dalam lingkungan masyarakat, hingga dalam konteks yang paling sederhana sekalipun, yaitu dalam lingkungan keluarga. Jawaban dari pertanyaan tersebut akan berkaitan dengan dua entitas yaitu, media massa dan globalisasi.
Seperti yang secara umum telah diketahui, dunia pada saat ini telah memasuki era komunikasi dan transformasi global, meminjam istilah dari Marshall McLuhan, era komunikasi pada saat ini telah membuat dunia menjadi semacam “Desa Global” (Global Village), yang dimana sudah tidak adalagi batasan-batasan yang memisahkan antara orang yang berada di negara satu untuk berkomunikasi dengan orang yang berada di negara lain.
Televisi memang merupakan media massa yang paling banyak digemari dan paling populer, alasannya pun beragam jika orang ditanya mengapa anda menonton televisi, ada yang menjawab “karena acaranya mengasyikkan”,”sebagai sarana refreshing”, “menghabiskan waktu”, “menambah pengetahuan”, dan beberapa alasan lainnya. Yang jelas semua media massa, khususnya televisi memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat. Kehadiran televisi dengan berbagai macam sihir yang diberikan kepada audience ditakutkan, audiens akan kehilangan daya kritis. Apa yang membuat media massa mampu membuat daya kritis masyarakat semakin hilang sehingga individu dengan mudahnya mampu dikuasai oleh media massa? Satu jawaban yang pasti adalah, kebutuhan akan informasi tiap individu. Kebuituhan akan informasi merupakan kebutuhan yang mendasar bagi setiap individu, manusia tidak akan bisa hidup dalam keadaan tanpa informasi, karena manusia memiliki rasa ingin tahu yang merupakan ciri mendasar manusia. Media massa, khususnya televisi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia di masa sekarang, bahkan media telah mampu mengubah pola hubungan antara masyarakat, jika dahulu pola penyebaran informasi masih membutuhkan figur perantara dalam hal ini masih membutuhkan para figur-figur di dalam masyarakat atau para pemimpin, kini peran tersebut telah diambil alih oleh televisi, hampir semua orang dapat mengetahui informasi dunia luar hanya dengan menonton televisi. 
   
Hiperrealitas Dalam Media Massa       
          Hiperrealitas  menurut Jean Baudrillard, adalah suatu realitas buatan yang meniru satu realitas tertentu, tapi karena proses pemanipulasian, maka realitas buatan itu terputus hubungannya dengan realitas aslinya.[1] Hiperrealitas terjadi akibat peran media massa, dalam hal ini televisi yang sangat begitu besar. Media massa dewasa ini tidak lagi menjadi penyebar realitas, tetapi sudah berubah menjadi penyebar hiperrealitas.[2] Media massa sudah mengabaikan salah satu tujuan pokoknya yaitu to inform, karena apa yang di tayangkan oleh televisi merupakan realitas semu. Sebagai penonton kita tidak mendapatkan atau melihat apa-apa dan apa yang disajikan oleh suatu layar televisi, yang kita tonton hanyalah sebuah kehampaan. Apa yang ditayangkan oleh media massa saat ini hanya sebuah citra-citraan yang secara silih berganti dengan tenggang waktu yang sangat singkat. Dengan metode seperti ini media massa mampu menayangkan banyak sekali gambar dengan keanekaragamannya, yang dipentingkan dari metode seperti ini kiranya hanyalah efek kecepatan pergantian tayangan itu sendiri, bukan substansi atau isi tayangannya.[3]         
            Dalam dunia hiperrealitas, massa (red: masyarakat) lebih mempercayai realitas buatan daripada realitas yang aslinya. Massa terpesona dengan perputaran penampakan yang muncul dan kembali hilang. Massa hidup dalam persimpangan yang tidak menentu arahnya, antara yang riil dan yang fantasi belaka. Televisi membawa penontonnya seakan-akan berada langsung di dalam struktur atau mengalami langsung realitas asli yang representasinya ada dalam tayangan televisi. Akibatnya realitas yang ditayangkan oleh televisi seakan-akan menjadi hiperreal.              
            Apa yang menjadi kekhawatiran dengan adanya hiperrealitas, adalah media massa (televisi) kini membawa realitas asli menuju “kematiannya”. Hal ini dikarenakan apa yang ditampilkan oleh televisi, dibuat seideal mungkin bahkan boleh dikatakan lebih riil daripada realitas yang asli. Realitas asli telah mati dalam hiperrealitas yang ditayangkan ke hadapan penonton setiap saat.
            Bahaya dari hiperrealitas dalam media massa adalah hancurnya sosialitas dari setiap warga. Masyarakat kini terpisah satu sama lain, sibuk mengunyah hiperrealitas yang ditayangkan televisi tanpa peduli sesama. Realitas sosial, dalam pengertian masyarakat menjadi hilang. Sosialitas setiap individu menjadi hancur, individu masuk dalam budaya massa.    
 
Hiperrealitas dan Hubungannya dengan Kapitalisme Global
          Seperti yang telah disebutkan sebelumnya jika media massa dan globalisasi merupakan dua entitas yang tidak bisa dipisahkan. Globalisasi secara sederhana bisa diartikan sebagai akumulasi antara internasionalisasi (penyebaran paham-paham global ke seluruh dunia atau masuknya dimensi global dalam setiap masalah). Dalam globalisasi semua menjadi transparan sehingga pola hubungan manusia menjadi semakin luas.
            Kapitalisme global sebagai bagian integral dari globalisasi bisa dengan cepat mencapai puncak atau titik finalnya karena di dalam diri kapitalisme ada daya gerak atau pembangkit yang selalu bekerja menghasilkan perubahan yang konstan dengan tujuan yang jelas.[4] George Soros, seorang pelaku utama dari kapitalisme global bahkan menyorot secara tajam ketimpangan dan bahaya yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme global yang ternyata tidak sejalan dengan pembangunan masyarakat global.[5] Salah satu teori klasik yang  dapat menjelaskan ketimpangan ini adalah teori dependensia atau ketergantungan yang pertama kali dicetuskan oleh lenin dalam pamfletnya, Imperialism. The Highest Stage of Capitalism (1914).[6] Lenin menyatakan bahwa kapitalisme eropa dapat berkembang karena ekspor eksploitasi yang dilakukannya di negara-negara jajahan dan penyerapan “modal surplus” eropa oleh para pekerja pribumi dan bahan-bahan mentah pribumi. Lenin kemudian menyatakan hal ini menghasilkan perang antara negara-negara utara yang maju dan “proletariat global” di negara-negara berkembang. Ketimpangan utara-selatan ini mendapat penjelasan yang paling masuk akal dari teori dependensia yang kemudian dikemukanan oleh ekonom argentian, Raul presbich, yang menyatakan bahwa kemiskinan di Dunia ketiga lebih disebabkan karena pengaruh tatanan ekonomi kapitalis global, yang membutuhkan jasa negara-negara berkembang agar terus-menerus berada dalam kondisi “berkembang dan bergantung”. Dengan kata lain ia menyatakan bahwa kemakmuran di utara secara langsung disebabkan karena kemiskinan di selatan.[7]
            Media massa berkembang sangat pesat di era globalisasi saat ini. Media massa tak bisa dilepaskan dari perkembangan kapitalisme global, yang dimana media massa berkembang sejalan dengan kapitalisme global. Keduanya mempunyai hubungan unik, yakni saling memengaruhi dan saling mendukung. Media massa tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal  tidak akan menjadi sepeti sekarang kalau tidak didukung dengan ekspansi modal yang kuat, dan sebaliknya, kapitalisme tidak akan bisa menjadi global tanpa dukungan penyebaran ide-ide globalisasi ke seluruh penjuru dunia melalui media massa. Dalam hal ini, yang paling berpengaruh dari media massa adalah iklan yang ditayangkan, tidak bisa dipungkiri jika iklan merupakan sumber pemasukan terbesar dari media massa, dan ini pula yang menjadi langkah awal dari kapitalisme untuk menggunakan media massa dalam penyebaran paham kapitalis. Iklan dalam media massa telah sangat membantu mengarahkan gaya hidup masyarakat agar sesuai dengan kepentingan pasar kapitalisme, yakni hidup konsumerisme
            Di dalam iklan inilah proses hiperrealitas juga terjadi, yang dimana apa yang diiklankan oleh televisi, merupakan realitas buatan yang bisa mengalahkan realitas yang asli, hal ini dilakukan untuk menarik minat audiens untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh media massa. Produsen memiliki otoritas penuh untuk mendesain produk iklan yang diminati masyarakat, bahkan iklan yang dibuat oleh produsen merupakan hal yang mustahil terjadi di dunia nyata, karena apa yang menjadi orientasi dari produsen adalah membuat masyarakat menjadi masyarakat yang konsumtif. Masyarakat seolah dipaksa untuk mengonsumsi apa yang diiklankan oleh produsen dengan menggunakan teknik advertising yang didalamnya terkandung nilai-nilai hiperrealitas. Media massa memproduksi dan menyebarkan dunia konsumerisme yang penuh dengan eksotisme, keindahan dan kehidupan yang harmonis dan sejahtera, dengan kata lain media massa  mendramatisasi kenyataan. Segala realitas, oleh media massa dibuat menjadi realitas yang indah. Realitas yang indah ini pada gilirannya akan menciptakan keterpesonaan tersendiri pada manusia yang pada akhirnya akan menghilangkan daya kritis dan inovasi pada manusia.

Epilog
            Media massa memang tidak bisa dilepaskan dari cengkraman kapitalisme, karena kedua hal ini merupakan dua mata rantai yang saling berhubungan satu sama lain. Media massa tidak akan bisa hidup tanpa adanya dukungan dari sistem kapitalisme, begitupun sebaliknya kapitalisme tidak akan bisa menyebarkan ideologi maupun paham kapitalis tanpa adanya dukungan dari media massa dalam menyebarkan informasi ke seluruh pelosok dunia. Lantas yang menjadi pertanyaan apakah kita harus menjadi orang yang anti media massa untuk terhindar dari paham kapitalis? Media massa sudah menjadi kebutuhan primer bagi tiap-tiap individudi era informasi ini, karena kebutuhan akan informasi merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Olehnya itu diperlukan sikap kritis oleh masyarakat terhadap media massa untuk mengembangkan penilaian tentang konten media, diperlukan adanya kesadaran dari masyarakat mengenai dampak dari media pada individu dan masyarakat. Sehingga kelak diharapkan terbentuknya masyarakat yang kritis dan melek media, tidak hanya mencerna secara langsung seluruh konten media.


[1] Jean Baudrillard, (trans. by Paul Foss, P. Perratton, and P. Beitchema), Simulations, New York, Semiotext(e), 1983, hlm. 2-3.
[2] Jean Baudrillard (ed. By julia Witwer), The Vital Illusiion, New York, Columbia University Press, 2000, hlm. 66.
[3] Jean Baudrillard, The Transparancy of Evil: Essay on Extrem Phenomena, London and New York, Verso, 2000, hlm. 13.
[4] Robert Heilbroner, 21st Century Capitalism, New York: W.W. Niorton Company Inc, 1993, hlm. 41.
[5] George Soros, Open Society: Reforming Global Capitalism, New York, Public Affairs, 1998, hlm.  168.
[6] Francis Fukuyama, Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal (penerj. Moh. Husein Amrullah), Yogyakjarta, Qalam, 2001, hlm. 176-177.
[7] Ibid., hlm. 177.

Kamis, 24 September 2015

Bom Waktu "Kebebasan Pers" Era Reformasi

http://pustakadigitalindonesia.blogspot.co.id/2015/08/pemerintah-ri-coba-coba-membatasi.html











 

 Media massa pada era reformasi berada di bawah kendali penguasa. Pemerintah memberikan dominasi untuk mengatur proses pemberitaan media massa.  Setiap media yang hendak merilis pemberitaan ke publik, terlebih dulu akan diperiksa oleh pemerintah untuk memastikan berita tersebut tidak merusak pencitraan penguasa.

Era reformasi merupakan era kebangkitan media massa di Indonesia, hal ini di tandai dengan menjamurnya kantor pemberitaan, baik media cetak maupun situs online. Pada era ini pula kebebasan pers  dalam merilis pemberitaan sudah mulai bertumbuh.  Kontrol penguasa dalam proses pemberitaan pun sudah hilang. Wajah kebebasan pers dalam berekspresi semakin terbuka lebar. Kendati demikian, kebebasan pemberitaan itu juga menjadi kekhawatiran publik, karena tayangan media massa elektronik banyak melanggar norma masyarakat dan nilai agama.

Eksistensi media massa sebagai salah satu lembaga sosial di masyarakat telah menggerus moralitas ke-Indonesiaan dan dunia pendidikan generasi muda dalam kaitannya dengan degradasi moralitas dan tata karma. Padahal diketahui kehadiran media massa diharapkan dapat menjadi control sosial, sarana informasi, sarana pendidikan dan sebagai hiburan dalam masyarakat.
Dalam kaitannya dengan eksistensi media masssa sebagai salah satu lembaga sosial di masyarakat, penulis akan memberikan beberapa poin kritik yang telah dilanggar oleh media massa era reformasi. Tulisan ini akan menelisik kajian akademik kebebsan pers dengan membandingkan ekspresi pers dalam memberikan informasi.

Poin pertama adalah mengenai hak privasi dalam pemberitaan; Setiap orang memiliki hak privasi sebagai individu dalam masyarakat. Kehadian media massa dengan konsep kebebasan berekspresi telah melupakan hak privasi setiap orang yang menjadi objek pemberitaan. Berita yang dimuat dalam media massa baik cetak maupun online sudah melampaui batas dari objek masalah. Banyak kita saksikan pemberitaan yang tidak lagi urgent dengan kasus yang melanda seorang yang diberitakan. Louis Alvin Day dalam bukunya “ethics in media communication” mengatakan bahwa invasi privasi oleh media meliputi spektrum yang luas, mulai dari reporter, hingga pengiklan. Louis Alvin Day sendiri mendefenisikan privasi sebaga “hak untuk dibiarkan atau hak untuk mengontrol publikasi yang tidak inginkan tentang urusan personal seseorang”

Urusan personal menjadi salah satu perhatian khusus karena di masyarakat, telah beredar anggapan jika seorang publik figur (artis, pejabat) sudah tidak memiliki hak privasi, bahkan masyarakat menilai, seorang public figure sudah tidak mempunyai ruang privasi. Media massa telah mengobo-obok kebebasan personal  seorang artis atau pejabat dan sengaja “dihubung-hubungkan” padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalahnya. Tentu ini merupakan pandangan yang tidak benar, karena semua orang memiliki hak privasi sebagai hak yang menyangkut urusan personal, dan bila hak itu menyangkut urusan publik barulah seorang publik figur tidak bisa menghindar dari upaya publikasi oleh media. inilah yang kadang sulit dibedakan oleh kawan-kawan jurnalis hari ini, tidak bisa membedakan antara ruang personal (pibadi) dengan publik. Penulis pernah membaca berita di salah satu media online, yang mengangkat berita tentang seorang guru yang “okkots” pada saat mengajar, disatu sisi melanggar hak privasi sang guru tersebut dengan menyebarluaskan informasi tanpa konfirmasi dari sang guru yang boleh jadi merugikan guru tersebut. Disisi lain nilai berita yang terkandung didalamnya tidak ada. Itu hanya satu contoh dari sekian banyak pelanggaran hak privasi yang dilakukan oleh media hari ini.

Nilai etika harus dikedepankan oleh teman-teman jurnalis. Pada saat yang sama kita menolak penggusuran ruang privat oleh penguasa, namun pada saat yang sama pula kita bersuka cita ketika ruang privat kita diobok-obok oleh praktik komunikasi. dengan kata lain, kita cenderung menjadi toleran ketika praktik komunikasi menginvasi diri kita

Poin kedua adalah tanggung jawab sosial dan kepentingan ekonomi media. Perkembangan media massa yang pesat berdampak pada persaingan bisnis industri media, sehingga masyarakat pun kini disuguhkan oleh pilihan informasi yang sangat beragam. Akses untuk mendapatkan informasi pun sudah sangat banyak, baik dari radio, tv, tabloid, majalah, surat kabar, dan lainnya.
Media saat ini bersifat multi fungsi. Selain menjalankan peran sebagai lembaga saluran informasi,  media juga dijadikan lahan perusahaan bisnis yang pencapaiannya akan dihadapkan pada dua indikator, yaitu untung dan rugi. Bayangkan untuk satu spot iklan dengan durasi kurang lebih 30 detik di waktu prime time bisa menghasilkan income yang melimpah. Tidaklah mengherankan jika media massa oleh banyak pihak sudah tidak lagi dipandang sebagai lembaga saluran informasi. Hak informasi masyarakat sudah diabaikan, idealisme seorang jurnalis pun kini hanya menjadi isapan jempol belaka.

Jika pada hakikatnya media harus menyampaikan informasi yang benar, akurat, tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Tetapi faktanya media saat ini tidak bisa terlepas dari kepentingan ekonomi dan harus melupakan tanggung jawab sosialnya. Media massa hanya dijadikan oleh segelintir pengusaha untuk menyampaikan produknya, membentuk opini masyarakat tentang produk mereka dan menghadirkan kasus untuk menjatuhkan para pesaing mereka.
alhasil semua tayangan media dijadikan pasar yang memperlihatkan semua produk dari pemasang iklan, hingga sponsor-sponsor. Acara yang membuat pemirsa menjadi konsumtif. Lain lagi dengan tayangan  rating tinggi yang mengakibatkan munculnya antisosial dan itu sudah jelas bertentangan dengan nilai-nilai etis yang berlaku. Hingga pada kenyataannya media saat ini hanya mengejar rating semata, karena dengan  rating tinggi akan ikut mendatangkan sponsor maupun pengiklan di media tersebut, aspek sosial pun mulai terabaikan. Saat dilema antara rasa tanggung jawab sosial itu muncul dengan tekanan ekonomi yang ada pada media, maka dengan sendirinya nilai-nilai etis itu akan luntur dengan kekuasaan sebuah tekanan ekonomi.

Poin ketiga adalah media sebagai kendaraan politik; Masih segar diingatan kita ketika menjelang pemilihan presiden pada tanggal 9 Juli 2014 lalu dengan menghadirkan dua nama calon, yaitu Jokowi dan Prabowo, yang dalam kompetisi itu terpilih Jokowi sebagai Presiden RI. Tentunya kemenangan Jokowi tidak lepas dari sokongan media yang pro terhadap Jokowi, bahkan sebelum pemilihan berlangsung pun sudah beredar dipublik, selain pertarungan Jokowi dan Prabowo ini juga merupakan pertarungan dua Media besar yaitu Metro TV dan TV One.
Keterlibatan media dalam perpolitikan di tanah air merupakan hal yang wajar, mengingat si pemilik media-media nasional di indonesia merupakan nama-nama yang sudah tidak asing lagi dalam dunia politik di tanah air, sebut saja Aburizal Bakri (TV One), Surya Paloh (Metro TV), Hary Tanoe (MNC Group), Chairil Tanjung (Trans Corp), Dahlan iskan (Jawa Pos). Media massa memang memiliki kemampuan untuk membentuk opini publik, dan teori agenda setting merupakan kategori applied, sehingga bisa dilihat apa yang terjadi di media saat ini. kekuasaan media dalam menentukan agenda masyarakat tergantung pada hubungan mereka dengan pusat kekuasaan. Kekuasaan inilah yang menjadi tujuan dari para pemilik media.
Kebutuhan masyarakat akan informasi yang begitu besar membuat media massa dengan leluasa membom bardir pemberitaan. Ironisnya hari ini berita yang disampaikan media massa seringkali diragukan keabsahannya, dan masyarakat pun menerimanya begitu sajatanpa ada filter terlebih dahulu. Hal inilah yang dimanfaatkan oleh pemilik media untuk melakukan kampanye terselubung kepada masyarakat, baik dalam bentuk berita, iklan, bahkan juga bisa melalui sinetron. Ketika terus begini bukan tidak mungkin media massa kita akan mengalami pergeseran fungsi dari penyampai informasi, menjadi industri konglomerat peraup keuntungan dalam hal ini kekuasaan di masyarakat.
Media massa saat ini sudah dapat dikatakan kehilangan tingkat keobyetifitasnya. Hal ini pun berimbas pada informasi yang diperoleh masyarakat, kini masyarakat tidak lagi diperhadapkan pada pilihan mana yang akan mereka tonton, tapi memang itulah yang harus mereka tonton. Jurnalis pun kini sudah kehilangan idealisme yang dimana berita seharusnya bersifat balance (berimbang), kini sudah ditumpangi oleh kepentingan baik itu dari pemilik media, maupun dari pihak sponsor. Kini diharapkan masyarakat untuk melek terhadap media, karena media massa bukanlah sesuatu barang baru, diharapkan masyarakat mem-filter apa yang diinformasikan oleh media massa, jangan hanya menerima seutuhnya, dan juga diharapkan masyarakat agar bersikap kritis terhadap media massa saat ini, bukan berarti anti media akan tetapi untuk pengembangan media dan masyarakat kedepannya.

Oleh :

Muh. Iswar Ramadhan

Alumni Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar
Mahasiswa Pascasarjana Kepemimpinan UI

 
Copyright © 2015 Nurani Institute Indonesia